Fans The Three Lion menangis? Barangkali saja iya. Lebih-lebih jika melihat kiprah Wales yang lolos ke fase 8 besar, biar pun hasil mengalahkan saudaranya sendiri Irlandia Utara, itu pun lewat gol bunuh diri McAuley. Nah, kekalahan Inggris dari Islandia dalam gelaran Euro 2016 di Perancis, bukan suatu kejutan jika kita bisa mengetahui empat hal ini.
1. Inggris tidak memiliki playmaker. Sekali-kalinya punya playmaker potensial, bakatnya rusak oleh dirinya sendiri. Siapa lagi namanya selain Paul Gascoigne.
2. Inggris tidak memiliki gelandang serang kiri. Berkebalikan dengan posisi bek kiri yang seakan tidak berhenti mengeluarkan bakat-bakat terbaiknya, mulai dari Ashley Cole, Leigton Baines, Luke Shaw, hingga di era Rose, atau posisi gelandang serang kanan yang pernah elegan di masa David Beckham, the Three Lion selalu kekurangan stok di gelandang serang kiri. Entah kutukan apa yang membuat Inggris seperti ini. Pernah muncul bakat hebat dalam diri Stewart Downing sampai Adam Johnson. Tetapi apa daya, taktikal klub-klub liga primer yang mulai diwabahi gaya sepakbola eropa daratan 4-2-3-1 membuat keberadaan gelandang serang kiri majal. Klub lebih gemar memasang winger forward di posisi itu. Inggris saat ini misalnya, punya Daniel Sturridge yang kidal, tetapi dia wing forward, bukan gelandang serang.
3. Overexpectation, ini adalah penyakit Inggris yang sangat akut. Harapan besar dari publik terhadap bakat-bakat muda negeri Elizabeth itu tidak pernah luntur. Sayangnya, hal ini berdampak buruk. Lihat saja flopnya Owen, Rooney, Walcott, Lennon, Alli, Dier, Rashford di debut turnamen resminya pada usia muda.
4. Efek Brexit! Mungkin coach Hodgson ingin menunjukkan solidaritasnya terhadap pemerintahan Inggris yang baru saja keluar dari Uni Eropa dengan turut keluar dari Euro 2016! Dasar, brexit bikin fans Inggris menjeriiiiit, aaarrggghh! Hahahaha!
HD Gumilang.
0 komentar:
Posting Komentar