Nakata
Asia (Jepang khususnya)
pernah memiliki seorang pemain dengan kharisma luarbiasa. Jauh sebelum
Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi populer, Hidetoshi Nakata adalah pusat
perhatian bagi footballians di benua
kuning ini. Statusnya mentereng: pemain Asia pertama yang menjadi backbone klub di Perugia, mencetak gol
debut di pertandingan perdana Serie A Italia, puncaknya turut berkontribusi
menjuarai Liga Italia bersama AS Roma. Dia adalah personifikasi sempurna dari
serial fiksi sepakbola Captain Tsubasa. Maka, ‘tak terhitung berapa juta jiwa
yang terkejut ketika Nakata mengumumkan keputusannya untuk pensiun sebagai
pemain dari dunia sepakbola usai Piala Dunia 2006. Di usianya yang baru 29
tahun, suatu umur emas. Dunia pun bertanya-tanya, mengapa Nakata mengambil
putusan kontroversial itu?
Waktu pun terus
bergerak, sampai suatu ketika Nakata mengungkapkan alasannya pensiun itu. suatu
narasi jawaban yang telak, dan semakin menunjukkan kharismanya sebagai the real Captain Tsubasa. Hari demi hari
dia lalui bersama pemain-pemain yang mengejar uang, uang, dan uang. Mereka
berlatih keras, bersaing, dengan harapan direkrut oleh klub besar dan
mendapatkan bayaran yang sepadan. Nakata tidak bisa menentang pergerakan
sepakbola modern yang mengarah kepada industrisasi, Nakata merasa telah
kehilangan kebahagiaan dalam bermain si kulit bundar itu.
Si
Rubah dan Kebahagiaan
Syahdan, pada musim
terakhir sebelum mengejutkan itu, klub bernama Leicester City ini hanya
menduduki strip terakhir dari jajaran klub yang berhak bertahan di kasta
tertinggi Liga Inggris. Manajemen tidak berharap muluk bagi si Rubah, sudah
untung bisa bertahan lebih lama di kasta tertinggi. Untuk memikul beban itu,
dipanggillah The Thinkerman Claudio
Ranieri, manajer karatan yang sudah kenyang makan asam garam Liga Inggris
bersama Chelsea. Dengan sisa-sisa kumpulan pemain, seperti kata Chairil Anwar, “Yang
terbuang..” Si Rubah mengarungi samudera liga Inggris musim ini. Ajaib! Tanpa perlu
lagi diceritakan perjuangan heroik tim ini, Leicester City mengakhiri musim di
posisi pertama, Juara! Tidak perlu lagi diungkapkan bahwa telah terjadi
kegemparan di jagat lapangan hijau ini.
Saya melihat,
keberhasilan Leicester City juara (bukan berarti menafikan faktor-faktor lazim
lainnya) adalah karena kebahagiaan. Persis seperti alam ideal yang diwajahi
Nakata. Kebahagiaan adalah faktor-X sebuah tim bisa menjadi juara. Kebahagiaan menjadi
detonator teraktif yang mencuatkan kemampuan sebuah tim yang secara keuangan
jauh lebih kecil daripada sekadar menyebut nama Manchester United, Manchester
City, Chelsea, ataupun Arsenal.
Bagaimana mungkin? Saya
tertarik menyimak Kasper Schmeichel yang berupaya mencari kebahagiaannya
sebagai seorang lelaki seutuhnya, ingin lepas dari bayang-bayang kebesaran sang
bapak, Peter. Hingga rela berjibaku di klub-klub semenjana demi menjauhkan diri
dari sorotan media. ataupun Riyad Mahrez, ataupun James Vardy yang bahkan
bekerja serabutan selain profesinya sebagai pebola. Dan sekumpulan pemain
lainnya. Mereka adalah para pencari kebahagiaan, setelah terbuang dan
ternistakan.
Seandainya Hidetoshi
Nakata ada di kamp latihan Leicester City, barangkali dia akan menganulir
putusannya untuk pensiun, sebab di sana ada sekelompok pemain yang bermain
dengan kebahagiaan, yang berjuang untuk kemenangan tim. Mirip kisah Tzubasa
Ozora bersama Nankatsu.
Namun yang menarik
dinanti adalah, bagaimana Leicester City mempertahankan kebahagiaannya? Dan,
adakah Mahrez, Vardy, Kante dan sekumpulan pemain muda berbakat lainnya tahan
dari gemericik kilauan poundsterling yang ditawarkan klub mapan demi
menggadaikan kebahagiaannya?
Ah, hidup ini memang
menjadi indah apabila ada kebahagiaan. Kebahagiaan hakiki yang tidak bisa
dibayar dengan uang berapapun. []
Sepakbola meski menjadi salah satu merk dagang tetap memiliki sisi yg tak selamanya dimunculkan. Pun dengan bintang sekelas Cristiano Ronaldo dibalik glamor kehidupan, ia punya sisi sosial serta kemanusiaan. Karena apa yg membuat bahagia memang menjadi hal yg bisa mengalahkan hal berupa uang yang banyak.
BalasHapusSelalu ada sisi lain dari sepak bola yang menarik untuk dilihat.
Hapus