Pages

Sabtu, 07 Mei 2016

Nakata, Si Rubah, dan Kebahagiaan

Nakata
Asia (Jepang khususnya) pernah memiliki seorang pemain dengan kharisma luarbiasa. Jauh sebelum Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi populer, Hidetoshi Nakata adalah pusat perhatian bagi footballians di benua kuning ini. Statusnya mentereng: pemain Asia pertama yang menjadi backbone klub di Perugia, mencetak gol debut di pertandingan perdana Serie A Italia, puncaknya turut berkontribusi menjuarai Liga Italia bersama AS Roma. Dia adalah personifikasi sempurna dari serial fiksi sepakbola Captain Tsubasa. Maka, ‘tak terhitung berapa juta jiwa yang terkejut ketika Nakata mengumumkan keputusannya untuk pensiun sebagai pemain dari dunia sepakbola usai Piala Dunia 2006. Di usianya yang baru 29 tahun, suatu umur emas. Dunia pun bertanya-tanya, mengapa Nakata mengambil putusan kontroversial itu?
Waktu pun terus bergerak, sampai suatu ketika Nakata mengungkapkan alasannya pensiun itu. suatu narasi jawaban yang telak, dan semakin menunjukkan kharismanya sebagai the real Captain Tsubasa. Hari demi hari dia lalui bersama pemain-pemain yang mengejar uang, uang, dan uang. Mereka berlatih keras, bersaing, dengan harapan direkrut oleh klub besar dan mendapatkan bayaran yang sepadan. Nakata tidak bisa menentang pergerakan sepakbola modern yang mengarah kepada industrisasi, Nakata merasa telah kehilangan kebahagiaan dalam bermain si kulit bundar itu.

Si Rubah dan Kebahagiaan
Syahdan, pada musim terakhir sebelum mengejutkan itu, klub bernama Leicester City ini hanya menduduki strip terakhir dari jajaran klub yang berhak bertahan di kasta tertinggi Liga Inggris. Manajemen tidak berharap muluk bagi si Rubah, sudah untung bisa bertahan lebih lama di kasta tertinggi. Untuk memikul beban itu, dipanggillah The Thinkerman Claudio Ranieri, manajer karatan yang sudah kenyang makan asam garam Liga Inggris bersama Chelsea. Dengan sisa-sisa kumpulan pemain, seperti kata Chairil Anwar, “Yang terbuang..” Si Rubah mengarungi samudera liga Inggris musim ini. Ajaib! Tanpa perlu lagi diceritakan perjuangan heroik tim ini, Leicester City mengakhiri musim di posisi pertama, Juara! Tidak perlu lagi diungkapkan bahwa telah terjadi kegemparan di jagat lapangan hijau ini.
Saya melihat, keberhasilan Leicester City juara (bukan berarti menafikan faktor-faktor lazim lainnya) adalah karena kebahagiaan. Persis seperti alam ideal yang diwajahi Nakata. Kebahagiaan adalah faktor-X sebuah tim bisa menjadi juara. Kebahagiaan menjadi detonator teraktif yang mencuatkan kemampuan sebuah tim yang secara keuangan jauh lebih kecil daripada sekadar menyebut nama Manchester United, Manchester City, Chelsea, ataupun Arsenal.
Bagaimana mungkin? Saya tertarik menyimak Kasper Schmeichel yang berupaya mencari kebahagiaannya sebagai seorang lelaki seutuhnya, ingin lepas dari bayang-bayang kebesaran sang bapak, Peter. Hingga rela berjibaku di klub-klub semenjana demi menjauhkan diri dari sorotan media. ataupun Riyad Mahrez, ataupun James Vardy yang bahkan bekerja serabutan selain profesinya sebagai pebola. Dan sekumpulan pemain lainnya. Mereka adalah para pencari kebahagiaan, setelah terbuang dan ternistakan.
Seandainya Hidetoshi Nakata ada di kamp latihan Leicester City, barangkali dia akan menganulir putusannya untuk pensiun, sebab di sana ada sekelompok pemain yang bermain dengan kebahagiaan, yang berjuang untuk kemenangan tim. Mirip kisah Tzubasa Ozora bersama Nankatsu.
Namun yang menarik dinanti adalah, bagaimana Leicester City mempertahankan kebahagiaannya? Dan, adakah Mahrez, Vardy, Kante dan sekumpulan pemain muda berbakat lainnya tahan dari gemericik kilauan poundsterling yang ditawarkan klub mapan demi menggadaikan kebahagiaannya?


Ah, hidup ini memang menjadi indah apabila ada kebahagiaan. Kebahagiaan hakiki yang tidak bisa dibayar dengan uang berapapun. []

2 komentar:

  1. Sepakbola meski menjadi salah satu merk dagang tetap memiliki sisi yg tak selamanya dimunculkan. Pun dengan bintang sekelas Cristiano Ronaldo dibalik glamor kehidupan, ia punya sisi sosial serta kemanusiaan. Karena apa yg membuat bahagia memang menjadi hal yg bisa mengalahkan hal berupa uang yang banyak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selalu ada sisi lain dari sepak bola yang menarik untuk dilihat.

      Hapus